Postingan

Tjoe Bou San: Nasionalis Tionghoa yang Melankolis

Gambar
Info Akademika - Tjoe Bou San yang lahir pada 1981 adalah anak seorang pedagang tekstil di Jakarta. Tjoe mempunyai dua orang saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan. Pada usia 18 tahun ia menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah mingguan yang bernama Hoa Tok Po edisi Melayu. Hoa Tok Po adalah majalah resmi Soe Po Sia, sebuah organisasi totok yang berhaluan nasionalisme Tionghoa.  Pada tahun 1919 Tjoe pernah mengadakan Kampanye Memberantas UU Kekaulaan Belanda dan berhasil mengumpulkan sejumlah 30.000 tanda tangan orang Tionghoa yang tidak mau jadi kawula Belanda. Juga pada 1919 Tjoe merangkap sebagai direktur Sin Po , koran itu menjadi corong nasionalisme Tionghoa yang berpengaruh. Tjoelah yang mengembangkan konsep nasionalisme Tionghoa di Hindia Belanda dan memimpin kampanye dalam memberantas kekawlaan Belanda setelah usai Perang Dunia I. Pada 1917, Tjoe menerbitkan novel romannya yang pertama berjudul Satoe Djojdo Jang Terhalang. Roman itu mengambil...

Busana Tui-Khim

Gambar
Dalam banyak kesempatan, saat ini semakin banyak orang menggunakan busana resmi peranakan pada berbagai event. Tidak hanya reuni, arisan, wisuda, kumpul-kumpul atau bahkan ke acara yang sifatnya lebih resmi seperti ke undangan kawinan. Walaupun batik, karena alasan praktis selalu menjadi pilihan utama, tetapi penggunaan kebaya peranakan saat ini semakin marak dijumpai. Warna warni yang cerah, dihiasi dengan bordiran aneka bunga yang cantik atau aneka binatang (burung, merak, ikan, kupu-kupu, dan lain-lain) yang dipadu dengan kecantikan  kain batik peranakan dari berbagai daerah seperti batik Pekalongan, Lasem, Cirebon, dan sebagainya membawa pesona tersendiri bagi wanita yang memakainya. Tak peduli berapa umur penggunanya, keelokan kebaya peranakan yang disesuaikan dengan usia penggunanya, selalu memikat dan layak dikagumi. Pada kesempatan-kesempatan resmi seperti ini, para pria umumnya memilih untuk menggunakan batik. Dengan lengan panjang atau l...

Bakcang

Gambar
Bakcang Bakcang atau bacang ( Hanzi : 肉粽, hanyu pinyin : rouzong) adalah penganan tradisional masyarakat Tionghoa . Kata 'bakcang' sendiri berasal dari dialek Hokkian yang lazim dibahasakan di antara suku Tionghoa di Indonesia. Bakcang menurut legenda kali pertama muncul pada zaman Dinasti Zhou berkaitan dengan simpati rakyat kepada Qu Yuan yang bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo . Pada saat itu, bakcang dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai untuk mengalihkan perhatian makhluk-makhluk di dalamnya supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan. Untuk kemudian, bakcang menjadi salah satu simbol perayaan Peh Cun atau Duanwu . Bakcang secara harfiah bak adalah daging dan cang adalah berisi daging jadi Arti bakcang adalah berisi daging, namun pada praktiknya selain yang berisi daging ada juga cang yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. Yang berisi sayur-sayuran disebut chaicang , chai adalah sayuran dan yang tidak berisi biasan...

Festival Peh Cun atau Festival Perahu Naga

Gambar
Festival Peh Cun atau yang biasa dikenal dengan festival Perahu Naga (Duanwu Jie, Hanzi : ) merupakan salah satu festival paling penting yang dirayakan oleh peranakan Tionghoa di Indonesia dan di seluruh dunia. Festival ini dirayakan setiap tanggal 5 bulan ke-5 pada penanggalan bulan, tahun ini jatuh pada tanggal 9 Juni 2016. Penamaan "Peh Cun", berasal dari kata Hokkien   (Hokkien POJ: pê-tsûn; Hanyu Pinyin: b? chuán). Seperti festival-festival lain pada umumnya, banyak legenda di seputar festival yang telah dirayakan oleh masyarakat selama lebih dari 2.000 tahun ini. Legenda yang paling terkenal adalah Legenda Qu Yuan. Legenda Qu Yuan (340-278 SM), seorang pejabat setia dari Negara Chu dan seorang sastrawan terkenal di masanya. Pada masa Dinasti Zhou, tujuh Negara sedang berada dalam masa peperangan, termasuk diantaranya adalah Negara Chu. Qu Yuan mengusulkan aliansi dengan Negara Qi melawan kekuasaan Qin. Namun re...

Sejarah Riwayat Hidup Jenghis Khan dan Kubilai Khan, Kaisar Penguasa Asia

Gambar
Memerangi kerajaan Jin Nenek-moyang kerajaan Jin berasal dari suku Jurchen. Suku Jurchen berhasil menguasai wilayah utara China selama lebih dari 100 tahun. Hal ini akan menjadi kesulitan besar untuk Jenghis Khan dalam menunaikan tugasnya. Kerajaan Jin memiliki jumlah pasukan yang hampir mendekati jutaan jiwa (lebih dari 10 kali lipat dari pasukan Jenghis Khan pada waktu itu). Mereka hidup aman dibalik tembok kerajaan yang besar dan susah untuk diserang. Jenghis Khan berhasil meruntuhkan semangat perang dan kekuataan kerajaan Jin dalam berbagai peperangan. Salah satunya adalah perang di Tebing Serigala Liar, dimana Jenghis Khan yang hanya memiliki pasukan tidak lebih dari 100.000 tentara berhasil membabat pasukan musuh yang besarnya lebih dari setengah juta jiwa. Kejayaan Jenghis Khan terbukti dari keberhasilannya dalam merebut ibukota kerajaan Jin, Dadu, yang sekarang ini menjadi Beijing. Para seniman (artis), ahli senjata (terutama ahli senjata bera...